Kamis, 11 Desember 2008

Lebih dari 200 Anggota Parlemen di Asia memohon Sekretaris Jendral PBB untuk mengunjungi Myanmar, menjamin pembebasan seluruh tahanan politik

Kuala Lumpur, Bangkok, New York; Inilah tonggak pertama dalam sejarah, dimana sekelompok besar anggota Parlemen di Asia telah mengirimkan surat kepada Sekretaris Jendral PBB Ban Ki-moon memohon pemerintah Myanmar/Burma untuk membebaskan seluruh tahanan politik sebelum tanggal 31 Desember 2008.

Surat tersebut disampaikan setelah 112 mantan Presiden dan Perdana Menteri dari 50 negara mengirim surat pada Sekretaris Jendral PBB, juga untuk memohon agar SekJen PBB mengunjungi Myanmar untuk menjamin dibebaskannya lebih dari 2,100 orang tahanan politik di negara tersebut.

Anggota Parlemen dari Korea, Thailand, Kamboja, Jepang, Malaysia, Filipina, Singapura dan Indonesia bergabung bersama anggota Parlemen dari Asia yang sangat prihatin dengan lambatnya perkembangan hak asasi manusia di Myanmar.

“Penting bagi Sekretaris Jendral Ban Ki-moon untuk mengunjungi Myanmar secara khusus dan terlibat dalam dialog yang serius dengan rejim militer dan menyampaikan kepada mereka permintaan dari para pemimpin dan anggota Parlemen di Asia dan di dunia untuk membebaskan seluruh tahana politik,” ungkap Kraisak Choonhavan, Presiden ASEAN Inter-Parliamentary Myanmar Caucus, yang menyelenggarakan petisi ini.

“Penderitaan rakyat Myanmar tidak boleh berlanjut dan dunia tidak boleh duduk diam dan hanya membantu ketika ada bencana alam menimpa,” ia menambahkan, dalam surat yang terspisah untuk SekJen PBB.

Sebanyak 241 anggota Parlemen dari delapan negara-negara Asia secara bersama-sama mengingatkan SekJen PBB bahwa Dewan Keamanan PBB, Sidang Umum dan Dewan Hak Asasi Manusia telah memohon pada rejim militer di Myanmar untuk segera membebaskan seluruh tahanan politik, permintaan yang ditolak oleh junta militer.

Tidak ada komentar: